Hem, juara banget nih quote bikinan bapak Oscar Hammerstein* II ini. “Elo cinta sama gue karena gue cantik, apa gue (jadi) cantik karena elo cinta gue?” Gitu katanya. Memang, faktor seorang pria mencintai seorang wanita bermacam-macam. Karena dia cantik lah, atau karena dia pinter lah, atau karena hobinya sama lah, atau karena asyik diajak ngobrol lah… dan lain lain sebagainya. Faktor yang pertama (fisik) adalah hal yang sangat lumrah dan manusiawi. Saya juga nggak mau munafik, karena physical appearance memang biasanya menjadi awal mula ketertarikan kita pada seseorang (termasuk saya). Tapi, kadang-kadang manusia suka jadi nggak esensial pada konsep jatuh cinta ini. Baru-baru ini saya menemukan kasus yang menurut orang lain wajar tetapi menurut saya nggak (juga). Ada seorang teman di kelas yang wajahnya memang cantik. Dia dikenal sudah 2 kali ganti pacar selama di kampus karena dia sering terlihat pacaran di lingkungan kampus dan membawa pacarnya ke kampus. Teman-teman cewek di kelas mengakui kalau pacar pertamanya memang manis (secara general). Saya, yang seleranya agak aneh menganggapnya biasa saja. Toh, kalaupun khalayak mengatakan laki-laki itu manis, saya merasa sangat wajar karena teman perempuan saya itu memang cantik. Pangeran tentu akan mencari seorang putri, si tampan pasti akan memilih si cantik, burung merak pasti akan mencari burung merak, bukan burung gagak. Itu sudah jadi hukum alam. Kira-kira setahun kemudian, teman saya yang cantik itu putus dan dan langsung punya pacar lagi. Kali ini dia pacaran dengan kakak tingkat yang wajahnya biasa saja. Teman-teman perempuan di kelas langsung sibuk membicarakannya. Saya yang tidak tertarik mengurusi masalah orang lain hanya memperhatikan mereka. “Her new boyfriend.” “Hebat ya, udah putus langsung punya yang baru.” “Wajarlah, dia cantik gitu.” Eiittt…. sebentar. Apa? Sejujurnya, saya pengen sekali tertawa ketika itu.
“Wajarlah, dia cantik gitu.”
Benar-benar, keterlaluan sekali pola pikir orang-orang ini. Dangkal sedangkal-dangkalnya becekan air di jalan! Coba kita sederhanakan ini.
1. Seorang cewek cantik putus dari pacarnya.
2. Beberapa minggu kemudian dia sudah pacaran lagi dengan laki-laki lain.
3. Selain menganggapnya hal yang wajar, secara implisit mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang ‘hebat’.
Ya Tuhan, saya jadi kasihan sama mereka. Saya jadi gemes. Saya jadi pengen ngegali otak mereka yang dangkal itu. Why so serious? Hal remeh dan tidak krusial untuk dijadikan bahan diskusi atau perdebatan ini untuk apa dipusingin? Hal yang mengganggu saya adalah, saya sungguh prihatin dengan cara berpikir teman-teman saya itu. Mereka sudah tidak punya konsep yang esensial lagi tentang cinta. Ketika mereka mengatakan ‘wajar’ terhadap kasus seorang perempuan cantik yang langsung punya pacar lagi tak lama sesudah putus, mereka sudah termakan fakta komunal bahwa ‘yang cantik pasti laku’ ‘yang cantik tidak susah dapat pacar’ dan lain sebagainya. Saya, ketika mendengar berita itu, langsung menolak mentah-mentah pendapat mereka walaupun dalam hati saja karena saya malas ikut-ikutan bergosip. Sebegitu bebalnya kah pemikiran mereka sehingga berpikir bahwa laki-laki yang sekarang dipacarinya itu 100% memacari si cantik karena dia cantik? Demi Neptunus, dangkal sekali. Ketika mendengar berita itu, saya pengen ngomong; “Kenapa mesti poin ‘cantik’ nya sih yang dijadikan tema? Bisa saja kan laki-laki itu tertarik pada kepribadian perempuannya, tingkah laku atau sikap perilakunya, atau hal-hal yang bersifat kualitatif lainnya, bukan hal relatif seperti itu?” Setahu saya, teman saya yang cantik itu memang kelakuannya baik dan tidak macam-macam. Saya jadi mikir, berarti saking mengagungkan yang namanya physical thing, masalah cinta (yang seharusnya dilihat secara bijak) pun mereka lihat lewat sudut pandang seperti itu. Miris. :’(
Nyambung dari cerita ini, saya sekarang pengen cerita tentang fenomena ‘high status people’ dan ‘low status people’ yang masih berkaitan dengan pola pikir kayak teman-teman saya itu saat ini.
Lanjut ke cerita teman saya yang cantik itu. Suatu hari, laki-laki itu dia bawa ke acara drama di kampus dan kebetulan saya duduk dua baris di belakang mereka. Teman saya langsung membuka gosip. “Pacar barunya.” “Oh ya?” tanggap saya (walaupun saya sudah tahu). “Iya.” Ganteng sih,tapi gantengan yang dulu.” kata teman saya sambil terus menatap mereka dengan tatapan iri. Saya yang sedang konsentrasi menonton drama jadi tidak fokus gara-gara ini lalu buru-buru menutup pembicaraan sebelum teman saya mencuap-cuap lebih tenggelam lagi. “Ya sudahlah, urusan dia. Aku lagi nggak mau gosip.” cegat saya. Teman saya itu nampak ingin berbicara lebih banyak lagi, tapi karena tidak saya tanggapi akhirnya dia diam. Tapi karena sudah terlanjur diganggu, sambil menonton drama otak saya kembali bergejolak. Ya ampun, saya jadi semakin prihatin dengan situasi seperti ini. Situasi ini sama dengan yang kini terjadi pada masyarakat kita, ketika sesuatu terjadi pada seseorang yang menonjol dalam hal tertentu (cantik atau terkenal), otomatis akan menjadi konsumsi publik. Contoh paling nyata, selebritis. Ketika ada sesuatu yang ‘hebat’ terjadi pada selebritis, maka masyarakat akan memosisikan diri mereka lebih rendah dari selebritis itu dan menganggap apa yang terjadi pada selebritis itu adalah suatu hal yang istimewa. Mengapa begitu? Tentu saja karena perbedaan NASIB dan GAYA HIDUP. Ketika masyarakat menemukan sesuatu yang berbeda dari realita mereka, maka mereka merasa mendapat pelarian. Selebritis adalah role model dalam kehidupan modern sekarang ini, atau sebuah sosok ideal yang dapat ‘mengontrol’ kondisi sosial suatu masyarakat, ya lewat gaya hidup itu tadi. Kenapa saya beri tanda kutip di kata ‘mengontrol’ karena mereka melakukannya secara tidak langsung. Saya pernah belajar tentang ini di mata kuliah Intercultural Communication.
Intinya, kondisi sosial suatu masyarakat itu terbentuk karena adanya contoh dari seseorang yang memiliki status tinggi dalam masyarakat (misalnya karena dia selebriti itu tadi). Kembali ke kasus teman saya yang cantik itu, di sini dialah yang jadi selebritinya. Pergantian pacarnya sebanyak 3 kali itu sudah jadi konsumsi publik bagi teman-teman saya, yang rata-rata menikmatinya sebagai sebuah infotainment dalam live version. Dan, jelas mereka menempatkan diri mereka sebagai ‘masyarakat biasa’, yang tidak cantik, yang tidak mengalami pengalaman berpacaran seperti itu, yang kagum, heboh, sekaligus iri dengan apa yang terjadi teman saya yang cantik itu. Hmmppffhh…. I’m totally speechless… :’(
Beginikah potret kaum intelektual yang katanya mahasiswa itu? Yang katanya terkenal karena kemampuan berpikir ilmiahnya dan memandang suatu hal dari berbagai perspektif? Sepertinya harus dikaji ulang :’(
~Keep Thinking!~
*) Oscar Hammerstein II (1895-1960): Penulis lagu, produser, & sutradara teater asal Amerika
Cowok berambut ikal selalu punya daya magis tersendiri buat saya (serius! ha) .
Nggak tahu sih, tapi menurut saya cowok berambut ikal itu seksi *hmmppff
Sejauh ini, cowok berambut ikal terbaik yang pernah saya lihat adalah Erlend øye-nya Kings of Convenience …

… dan Bob Dylan…


DAN, baru-baru ini saya menemukan cowok berambut ikal di situs lookbook yang bikin saya membatu untuk beberapa saat :


*segini aja ya masukinnya, saya ga kuat iman buat masukin yang lainnya
**bila tertarik melihat keajaiban pria ini bisa langsung klik http://lookbook.nu/user/looks/13336-Pascal-G
Demi Dewa Neptunus, Demi Planet Jupiter… Pria ajaib ini namanya Pascal Grob dari Zurich, Swiss. Awalnya saya nyangka dia orang Asia, semacam Korea atau Filipina gitu soalnya kayaknya jarang ada cowok Eropa yang stylish-nya kebangetan kayak begitu. Setelah menilik foto-foto dia yang agak close-up, saya akhirnya melihat gurat-gurat Eropa di mukanya. Tapi… matanya itu! Apa dia peranakan Asia-Eropa? Saya belum dapat informasi lebih lanjut soal itu. Balik lagi ke soal cowok berambut ikal, ya, tentu saja Mr. Grob ini langsung membuat saya tersihir dengan rambut ikal hitamnya yang ~seksi~ . Tapi saya nggak langsung tergila-gila pada pandangan pertama lho sama dia. Soalnya, saya sempat terpengaruh fakta komunal kalau cowok yang stylish dan suka fashion itu adalah, ehm, queer. Ketika pertama kali lihat dia, saya memang suka, tapi saya agak mikir-mikir dulu ketika melihat beberapa fotonya yang memakai fashion item yang menurut saya terlalu stylish untuk dipakai seorang cowok. Tapi saya nggak pantang menyerah, saya terus scroll down dan untungnya foto-foto dia selanjutnya banyak menampilkan gaya-gaya yang manly (pfiuh <3). Akhirnya, saya memutuskan; he’s my 3rd curly idol next to Mr. øye & Mr. Dylan! (tadaaaa!! :DD)
Sebenarnya, bukan cuma rambut ikalnya sih yang bikin saya suka sama dia. Mata, dagu, kacamata, sama tubuh skinny-nya juga ikut berkontribusi untuk mencuci mata saya hehehehe :3 :3 *Skinny?? Iya, saya memang suka cowok kurus… (apakah ini aneh??) *Kacamata? Iya, cowok berkacamata juga punya daya magis tersendiri buat saya (ah..saya aneh banget sih…)
Jadi, bisa lihat kan persamaan antara ketiga cowok di atas? Ikal, berkacamata, dan skinny. Yah, itulah selera cowok saya yang aneh. Ngomong-ngomong tentang Mr. Dylan dengan Mr. Grob, saya nemu beberapa foto yang menurut saya mereka agak mirip… *droll




Mirip? Nggak? Mirip? Nggak? Apapun itu, mereka sama-sama lucu :’3 :’3
Berpikir, sebenarnya adalah suatu kegiatan yang tidak sulit untuk dilakukan. Apalagi sebagai seorang manusia kita memang dituntut untuk banyak berpikir dalam berkegiatan sehari-hari. Tetapi, kadang-kadang otak manusia terlalu banyak dipadati oleh hal-hal rumit sehingga untuk berpikir secara cerdas pun sulit dilakukan. Hal yang seharusnya mudah dibuat menjadi susah, itulah yang saya perhatikan akhir-akhir ini.
Tulisan saya kali ini muncul karena saya merasa sangat ‘tercengang’ melihat sikap generasi muda yang tidak lagi bisa berpikir ringkas dan cermat dalam menghadapi sesuatu. Mungkin karena kata ‘generasi muda’ terlalu general, jadi saya akan mempersempitnya menjadi ‘teman-teman saya’. Kejadian pertama, berawal dari pengambilan gambar film pendek yang dilakukan pada hari Sabtu kemarin. Film pendek ini adalah bagian dari tugas akhir salah satu mata kuliah yang berhubungan dengan kultur. Pemain di film ini terdiri dari 10 orang, dengan dua pemeran utama dan delapan pemeran pendukung. Kebetulan saya termasuk ke dalam daftar pemeran pendukung. Sutradara meminta kami berkumpul di taman kampus pukul 9. Saya, yang tahu betul kultur Indonesia, sengaja datang dari rumah pukul 9 karena saya yakin sutradara dan yang lainnya pun akan datang terlambat. Di kasus ini, saya bukannya mau mempertahankan budaya jam karet Indonesia, tapi bila saya tepat waktu pun percuma karena saya tidak akan bertemu dengan siapa-siapa di sana (saya sudah sering mengalami kejadian seperti itu). Begitu tiba di taman kampus, tentu saja dugaan saya benar, tetapi agak meleset karena ada satu orang yang sudah datang, yaitu teman saya yang rela pagi-pagi berangkat dari Jakarta (karena urusan pekerjaan) langsung tancap gas ke Bandung karena ingat ada pengambilan gambar. Ketika saya tanya siapa saja yang sudah datang, teman saya itu menjawab belum ada dan dialah satu-satunya yang sudah berada di sini dari pukul 9 tadi. Saya merasa terharu karena ternyata masih ada juga orang yang mau mempertahankan budaya tepat waktu di antara orang-orang yang biasa berleha-leha dan ‘dilecehkan’ oleh orang lain yang biasa berleha-leha :’)
Kira-kira 10 menit kemudian, sutradara datang paling akhir ketika para pemain sudah datang semua. Dan ketika ditanya soal naskah, dia menjawab tidak perlu khawatir soal naskah karena film ini tidak banyak dialognya. Maka, kami tidak diberi naskah walaupun naskahnya ada. Saya jadi berpikir, tentu saja kita harus khawatir. Naskah itu penting. Baik dialognya sedikit atau banyak, naskah itu penting untuk ancang-ancang pemain. Sehingga pemain akan tahu jalan cerita secara umum dan tahu harus mempersiapkan/melatih ekspresi atau nada bicara yang seperti apa ketika berakting. (FYI, saya sudah 2 kali jadi co-director di drama kelas jadi saya ‘lumayan-cukup’ berpengalaman *terserah)
Setelah beberapa lama, pengambilan gambar tidak juga dilakukan karena kita semua harus menunggu pemeran utama ke-2 yang sudah lebih dari 1 jam tidak datang juga. Kami tidak protes karena kami mengira bahwa semua pemeran memang harus bermain dalam satu adegan, jadi kami semua dengan ikhlas menunggu (ini terjadi karena sutradara tidak memberikan kami naskah dan tidak memberikan kami jalan cerita secara umum). Sekitar 1 jam waktu terbuang percuma, si pemeran utama ke2 datang. Daaaan ternyata, setelah dia datang pun, dia tidak dipakai. Si sutradara hanya memakai si pemeran utama ke-1 dan 4 pemeran pendukung. Saya jadi melongo. LAH, kalo begitu kenapa GAK MULAI DARITADI AJA kalo emang cuma butuh si pemeran utama 1 dan 4 pemeran pendukung???? Jadi, UNTUK MEMULAI adegan ini, si sutradara lama-lama menunggu di pemeran utama 2, padahal dia TIDAK ADA di adegan ini.
Si pemeran utama 2 akhirnya dipakai 2 jam berikutnya. Mengapa bisa selama itu, ini diakibatkan karena para pemain yang tidak siap karena tidak diberi naskah. Mau tidak mau mereka harus diarahkan cukup lama oleh sutradara. Lalu saya cukup kasihan juga dengan si pemeran utama 2 karena sudah jauh-jauh datang cuma akting berjalan,duduk,dan tidak ada dialog pula. Sebagai seorang pemeran utama, dia tidak berdialog sama sekali. Sementara pemeran pendukung yang main di adegan tadi punya porsi berdialog. Tapi tunggu dulu. Ada yang jauh lebih kasihan lagi dari mereka. Yaitu saya dan 3 pemeran pendukung yang lain. Kami (terutama saya dan 1 orang yang datang paling awal tadi) datang awal tapi TERNYATA kami main di adegan-adegan akhir (kami tahu ini setelah menunggu sampai jam 4 SORE). Dan itu berarti, kami hanya BUANG-BUANG WAKTU di lokasi pengambilan gambar, TANPA ADA kegiatan yang jelas.
Itu baru permasalahan waktu. Masih ada satu permasalah yang lain, yaitu kostum. Film ini ‘ceritanya’ berlatar belakang budaya Jepang (dan jadi ironis setelah melihat apa yang telah terjadi di balik pembuatan film ini). Saya melihat, sebagai seorang sutradara dan yang membuat cerita ini, dia sama sekali menjalankan tugasnya dengan sangat buruk. Kesalahan terbesarnya adalah, dia tidak mengetahui seluk-beluk budaya dan bahasa Jepang dan berani-beraninya membuat cerita dengan set seperti itu. Alhasil, semuanya menjadi instan dan terkesan asal. Untuk soal kostum, dia menyuruh tim kostum untuk mencari baju seragam pelaut dan rok kotak-kotak (yang notabene adalah seragam sekolah). Itu membuat saya mikir lagi. Lah, mahasiswa kok pake seragam??? Lalu soal bahasa. Ketika saya periksa naskahnya, banyak terdapat salah penulisan, misalnya nama tempat, lalu gaya bahasa yang terlalu formal untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari dan dalam lingkungan pergaulan (FYI lagi, di SMA saya pernah belajar bahasa Jepang jadi saya ‘lumayan-cukup’ tahu bahasa Jepang *terserah).
Akhirnya pengambilan gambar yang ‘sesungguhnya’ bagi saya dan pemeran pendukung lain baru dimulai pukul 4 sore, yang itu semua diakibatkan karena kurang profesionalnya si sutradara dalam merencanakan film ini. Pengambilan gambar baru dimulai pukul segitu karena naskah harus dirombak lagi oleh teman saya yang datang paling awal tadi dan melatih pemeran utama 1 dan 2 pemeran pendukung lain yang susah diajari bahasa Jepang. Maka, saya dan teman saya itulah yang bersusah payah mengajari mereka. Kebetulan dan untungnya dia penggemar manga jadi lumayan hafal bahasa Jepang.
Begitulah cerita pertama. Semua itu, tidak akan terjadi kalau si sutradara mau menggunakan otaknya untuk berpikir. Dengan berpikir secara ringkas dan sistematis, kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Secara umum, dia harus berpikir kalau membuat film adalah suatu hal yang tidak mudah dan memerlukan persiapan dan teknik (sekalipun film pendek yang hanya berdurasi 10-15 menit). Tidak ada film yang dibuat sekali jadi. Semudah apapun adegan (ketika dibayangkan akan mudah), pasti butuh hasil yang sempurna dan untuk mendapatkannya haruslah dilakukan berulang-ulang. Dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama.
Lalu, setelah berpikir mengenai hal tersebut, dia seharusnya bisa berpikir, dengan jumlah 10 pemeran, satu hari tidaklah cukup untuk menyelesaikannya (kecuali kalau memang ingin instan). Aktor/aktris bukan robot, yang tahan menunggu berjam-jam untuk menunggu giliran bermain. Dia seharusnya bisa berpikir kalau pengambilan gambar bisa dibagi 2 sesi. Misalnya, sesi pertama (hari 1) untuk adegan sekian sampai sekian, dengan pemeran-pemeran anu. Lalu sesi kedua (hari 2) untuk adegan sekian sampai sekian, dengan pemeran-pemeran anu. Dengan begitu, tidak ada individu yang merasa dirugikan karena waktunya telah terbuang percuma. Berikutnya, seharusnya dia berpikir kalau film itu adalah gabungan dari beberapa take. Jadi, pengambilan gambar tidaklah perlu dilakukan secara berurutan karena pada akhirnya take akan diurutkan dengan cara diedit. Dan, lagi, tidak akan ada individu yang merasa dirugikan karena harus menunggu lama untuk giliran bermain.
Bagaimana? Itu semua pikiran yang sederhana bukan? Pikiran sederhana akan muncul apabila kita bisa memikirkan sesuatu secara cermat. Sementara, fenomena yang terjadi adalah banyak orang yang berpikiran gampang atau underestimate sehingga hasil yang muncul adalah kegagalan.
~Keep Thinking!
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010